Apa tujuan kita hidup?
Allah memberitahu:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu
Akan tetapi kata ibadah masih merupakan kata yang multitafsir, bagaimana memastikan ibadah yang mana yang dimaksudkan Allah?
Mungkin kita bisa merujuk pada hadis nabi berikut:
Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi.
Jadi jika hidup ini ada semacam KPI-nya [Key Performance Indicator], maka bagi Allah, poin yang paling penting adalah shalat kita, yang lain tidak menjadi poin penentu.
Pentingnya shalat ini bisa juga kita lihat dari bagaimana perintah shalat ini turun. Dalam kisah Isra’ Mi’raj, Allah sendiri yang menyampaikan perintah shalat ini saat Nabi Muhammad menghadap Allah di langit ke tujuh. Tidak ada perintah agama lainnya yang membutuhkan Nabi sendiri menghadap ke Allah, biasanya cukup disampaikan melalui malaikat Jibril sebagai perantara.
Dalam perintah awalnya, Allah mewajibkan shalat 50 kali dalam sehari. Kalau dibagi rata, kira-kira tiap 29 menit sekali dalam sehari kita harus shalat. Jika tiap shalat memakan waktu 10 menit, maka kita hanya punya waktu bebas 19 menit, sebelum kita harus shalat lagi. Kita makan, minum, tidur, bekerja, bergaul dengan sesama, berkeluarga dan sebagainya harus bisa kita sisipkan di antara sela 19 menit tersebut. Sungguh kehidupan yang sulit dan merepotkan.
Tapi untungnya atas saran dari Nabi Musa, Nabi Muhammad menawar berkali-kali kewajiban itu, hingga akhirnya mendapat diskon 90% dari Allah. Maka kewajiban kita shalat 5 kali sehari merupakan hasil tawar menawar Nabi Muhammad dengan Allah di langit ketujuh.

Pentingnya shalat dapat juga dilihat dari contoh yang diberikan Nabi. Dalam beberapa riwayat dikisahkan bahwa sedemikian banyaknya Nabi shalat malam, sehingga sering kaki Nabi menjadi bengkak karena berdiri sepanjang malam melakukan shalat.
Jalan Pintas Selain Shalat
Rajin melaksanakan shalat adalah dedikasi seumur hidup, bagaimana jika kita tak bisa serajin itu shalat?
Allah menyediakan beberapa jalan pintas, yang tentu saja terkait dengan makna ibadah kepada Allah. Beberapa yang utama adalah:
Jihad
Allah memberitahu:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah: 111]
Dalam jihad, seseorang memberikan harta yang paling berharga yang dimilikinya, yaitu nyawanya untuk Allah. Itu sebuah proklamasi bahwa Allah lebih penting bagi orang itu dibandingkan dengan dirinya sendiri, dan Allah senang dengan proklamasi itu.
Husnul Khotimah
Dalam sebuah hadis dikatakan:
Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah laa ilaaha illallah, maka dia akan masuk surga.
Sehingga jika seseorang meninggal dengan mengucapkan laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah), maka itu cukup bagi Allah untuk memberikan hadiah surga untuknya, tak perduli dengan apapun yang telah dilakukan oleh seseorang itu di masa hidupnya.
Diakui bahwa diri-Nya adalah satu-satunya Tuhan, sangat penting bagi Allah.
Puasa Ramadhan
Dalam sebuah hadis dikatakan:
Siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Jadi, Allah akan menghapus semua dosa atas kejahatan seseorang bila orang tersebut mampu puasa penuh dalam ramadhan. Jika anda menunjukkan kepatuhan anda dengan puasa penuh selama Ramadhan, Allah senang – anda diampuni, dia tak perduli dengan apa yang anda lakukan kepada manusia lainnya. Dia cuma perduli anda patuh beribadah.
Jadi
Apa tujuan Allah menciptakan manusia?
Kita bisa lihat kembali KPI yang telah ditetapkan Allah beserta jalan pintasnya.
Manusia yang akan mendapatkan Surga Allah adalah manusia yang dalam sehari semalam paling tidak 5 kali melakukan ritual puja-puji pada Allah (shalat), atau mengorbankan nyawanya untuk Allah, atau mengakui Allah sebagai tuhan diakhir hidupnya, atau taat mengerjakan puasa Ramadhan.
Intinya adalah manusia yang menempatkan dirinya sebagai abdi (budak) Allah, yang siap melakukan apapun untuk Allah.
Menjadi orang baik? itu bagus, tapi sayangnya itu tidak ada dalam KPI dan jalan pintas yang ditetapkan Allah. Jadi itu tidak penting.
Menjadi bermanfaat bagi sesama? itu bagus, tapi sayangnya itu tidak ada dalam KPI dan jalan pintas yang ditetapkan Allah. Jadi itu tidak penting.
Lalu bagaimana dengan ungkapan bahwa Islam menjadikan umatnya sebagai rahmatan lil alamin (kebaikan bagi semesta)? sepertinya itu sebagai bonus saja, tercapai – ya bagus, tidak tercapai – ya tidak apa-apa.

Jadi para pejuang kemanusiaan, pemimpin yang memakmurkan rakyatnya, ilmuwan yang menemukan berbagai hal yang berguna bagi manusia, suami yang mencintai istrinya, orang tua yang mencintai anaknya — jika tidak shalat, atau tidak mati berjihad, atau tidak husnul khotimah atau tidak puasa Ramadhan — otomatis tidak akan lolos dalam saringan pertama. Neraka tempatnya.
Allah tak perduli mengenai apa sumbangan mereka pada manusia, Allah hanya ingin dipuja dan diakui sebagai Tuhan, Allah ingin ditempatkan sebagai yang paling penting.
Bacaan:
