Agama Politeisme telah membantu perkembangan budaya di Timur Tengah. Hampir semua bangunan monumental dunia seperti Piramid Mesir, Taman Gantung Babilonia, Patung Zeus di Olympia, Kuil Artemis dan sebagainya dibangun di era Agama Politeisme.
Problem Politeisme
Namun apakah Politeisme tidak mempunyai masalah? ternyata ada. Masalah Agama Politeisme antara lain:
Bagi rakyat kebanyakan adalah:
- Dewa yang tak terlalu perduli dengan manusia. Para Dewa punya kehidupan sosial sendiri, manusia tidak terlalu penting bagi para Dewa.
- Ongkos membujuk Dewa mahal. Untuk menarik perhatian para dewa diperlukan persembahan yang memberatkan bagi kebanyakan rakyat. Orang miskin dan tersisih tidak bakal diperhatikan Dewa.

Bagi penguasa:
- Kekuasaan terpecah di antara banyak kelompok imam. Karena banyak dewa yang disembah, ada banyak organisasi agama yang mempunyai struktur kendali dan sendiri dan menyulitkan penguasa untuk mengontrol mereka.
- Norma yang berbeda-beda menyulitkan standarisasi hukum. Tiap Dewa menuntut norma dan aturan perilaku yang berbeda, sehingga penguasa sulit menerapkan hukum standard yang bisa berlaku untuk semua.
- Loyalitas masyarakat terbagi ke berbagai dewa, bukan kepada penguasa.
Bagi penguasa, ini adalah masalah besar manakala wilayah kekuasaannya menjadi lebih besar, pengendalian negara menjadi semakin kompleks.
Muncullah gagasan monoteisme—penyembahan pada satu dewa tunggal. Dengan satu dewa, hanya ada satu lembaga keagamaan, satu pusat pemujaan, dan satu set ritual yang seragam. Hal ini memudahkan penguasa untuk menyatukan masyarakat di bawah satu sistem kepercayaan dan mengontrol agama sebagai alat legitimasi kekuasaan.
Bagi rakyat biasa, monoteisme menawarkan penghematan. Dewa tunggal berarti one-stop-solution, gak repot cari dewa yang sesuai untuk keinginan yang berbeda. Juga Dewa mungkin akan lebih perhatian kepada manusia, karena sang Dewa tidak sibuk dengan kehidupan sosialnya sendiri di masyarakat para Dewa. 🙂
Atenisme: Monoteisme Elit yang Gagal
Salah satu upaya paling awal menuju monoteisme adalah Atenisme di Mesir, diperkenalkan oleh Firaun Akhenaten (1353–1336 SM).
Apa Itu Atenisme?
Dengan Atenisme, Fir’aun Akhenaten memperkenalkan hanya ada satu Dewa, yaitu Dewa Aten yang dilambangkan dengan Matahari, tidak ada Dewa-dewa lainnya.
Aten adalah Dewa baru, untuk itu diperkenalkan ritual-ritual baru, kuil pemujaan Aten yang baru, organisasi keagamaan yang baru dengan imam-imam baru. Semua kuil lama ditutup.
Untuk awal yang baru ini, Fir’aun Akhenaten membuat ibukota baru Akhetaten, yang bersih dari segala jejak dewa-dewa Mesir lama.

Percobaan Yang Gagal
Walaupun memberikan keuntungan bagi penguasa, Atenisme tidak bisa bertahan. Mengapa?
Agama Atenisme terlalu asing bagi rakyat yang sudah terbiasa hidup dengan Dewa-dewa lama. Terlebih lagi pusat Atenisme ada di ibukota baru yang terpisah dari rakyat yang hidup di kota lama. Dengan ditutupnya kuil-kuil lama dan pembubaran organisasi agama lama, para Imam yang pada kenyataannya masih dihormati rakyat, melakukan perlawanan.
Agama Atenisme akhirnya mati dengan segera, ketika Fir’aun Akhenaten meninggal. Penerusnya, Fir’aun Tutankhamun mengembalikan politeisme. Kota Akhetaten ditinggalkan terlantar, ibukota dikembalikan ke kota lama dan Atenisme dihapus dari sejarah, hingga ditemukan kembali oleh arkeolog modern.
Zoroastrianisme: Monoteisme yang Bertahan
Monoteisme berikutnya diperkenalkan oleh Zarathustra, seorang nabi yang hidup sekitar 1500–1000 SM. Ajarannya berpusat pada penyembahan Ahura Mazda (Tuhan Kebijaksanaan) sebagai penguasa tertinggi, melawan Angra Mainyu (Roh Kehancuran). Zoroaster menjanjikan kehidupan bahagia setelah kematian bila berpihak pada Ahura Mazda dan kesengsaraan abadi bila melawannya.
Meskipun ajaran baru, namun Zoroaster mengadopsi banyak simbol agama lama sehingga tidak terlalu asing bagi masyarakat. Ahura Mazda merupakan salah satu dewa lama yang diupgrade, sehingga tidak asing bagi pemeluk agama lama. Tidak terlalu banyak perubahan simbol keagamaan yang dibawanya, hanya konsep teologinya yang diperbarui.
Dengan modifikasi yang tidak terlalu ekstrim ini, Zoroaster bisa diterima masyarakat, dan berkembang pesat.

Kekuasaan: Alat Berkembang
Zoroaster tidak akan bisa berkembang kalau hanya mengandalkan penerimaan oleh rakyat kebanyakan.
Zoroaster memperoleh kendaraan untuk berkembang lebi lanjut ketika Zoroaster diterima oleh Kekaisaran Persia (Achaemenid & Sassania) sebagai agama resmi. Dengan diterima sebagai agama resmi, norma dan aturan Zoroaster diadopsi dan disebarkan ke seluruh Kekaisaran Persia yang luas, sehingga memberikan legitimasi politik untuk penyebaran dan perkembangannya.
Setelah Zoroaster, Lalu Apa?
Setelah kegagalan Atenisme di Mesir, lalu berhasil dengan Zoroaster di Persia, apakah Monoteisme sebagai jenis agama baru berhasil tersebar ke Timur Tengah? saya akan sampaikan di tulisan berikutnya.
Bacaan:
