Evolusi Agama? Kenapa Timur Tengah?

Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat peradaban awal dunia. Dari kawasan ini berkembang berbagai inovasi budaya, teknologi dan agama manusia. Rintisan yang terjadi di Timur Tengah ini nantinya akan tersebar dan mempengaruhi perkembangan budaya lainnya di dunia.

Jaman Besi: Era Kerajaan Besar, Era Para Dewa

Penemuan cara mengolah besi, memacu perkembangan teknologi peralatan pertanian dan persenjataan perang.

Dengan kemajuan tersebut hasil pangan meningkat pesat dan memicu pertumbuhan penduduk. Desa meluas menjadi kota, kota-kota bergabung menjadi kerajaan.

Pedang dan tombak yang lebih kuat memungkinkan raja mengontrol tentara kuat untuk mengendalikan dan mempertahankan kerajaannya. Kerajaan mulai melakukan penaklukan wilayah-wilayah untuk ekspansi kekuasaan yang lebih luas.

Bersama berkembangnya kerajaan-kerajaan ini, berkembang pula sistem kepercayaan yang hampir mirip di wilayah tersebut. Yaitu kepercayaan bahwa semua yang terjadi di dunia ini tunduk kepada kendali para Dewa, makhluk abadi yang mempunyai kemampuan mengendalikan semesta.

Tiap wilayah punya Dewa-dewa dan cerita sendiri tentang mereka. Dewa-dewa yang populer di wilayah Timur Tengah antara lain:

  1. El, Baal, dan Asherah (Kanaan/Fenisia) – El adalah dewa tertinggi, Baal dewa badai, dan Asherah dewi kesuburan.
  2. Marduk, Ishtar, Shamash, Enlil (Babilonia) – Marduk pelindung kota Babilon dan raja para Dewa.
  3. Jupiter, Juno, Apollo, Venus (Romawi) – Dewa-dewi utama dalam mitologi Romawi.
  4. Ra, Amun, Osiris, Isis (Mesir) – Dewa-dewi utama dalam mitologi Mesir kuno.
  5. Mitra, Indra, Varuna, Ahura Mazda, Anahita (Persia) – Dewa-dewi utama dalam mitologi Persia kuno
Para Dewa Mesir yang ditampilkan di makam Fir’aun

Siapa Para Dewa Itu?

Para dewa digambarkan sebagai makhluk abadi dengan kekuatan super yang mampu mengendalikan semesta. Mereka hidup dan bersosialisasi layaknya manusia—berteman, bertengkar, jatuh cinta, dan berperang.

Perbedaannya dengan manusia, mereka tidak bisa mati dan memiliki kekuatan luar biasa. Manusia tidak bisa melihat mereka, karena mereka tidak hidup bercampur dengan manusia. Namun bila Dewa berkehendak, mereka bisa ikut campur mengatur alam manusia dan kehidupan manusia.

Dewa Marduk mengalahkan Dewa Tiamat. Marduk membelah tubuh Tiamat, bagian atasnya menjelma menjadi kubah langit, bagian bawahnya menjadi bumi.

Hubungan Dewa dan Manusia

Bagi manusia, para dewa sangat penting karena mereka bisa mengatasi keterbatasan manusia menghadapi kehidupannya. Misalnya:

  • Dewa Perang (seperti Ares dalam mitologi Yunani atau Baal dalam mitologi Kanaan) dipuja agar mereka memenangkan pertempuran.
  • Dewa Cinta (seperti Ishtar dari Mesopotamia atau Aphrodite dari Yunani) dimohon berkahnya dalam urusan asmara.
  • Dewa Kesuburan (seperti Osiris di Mesir atau Demeter di Yunani) diharapkan memberikan panen melimpah.
  • Dewa Matahari (seperti Ra di Mesir atau Shamash di Mesopotamia) dipuja untuk menjaga terang dan kehangatan dunia.

Membujuk Dewa

Jika Dewa penting bagi manusia, sebaliknya manusia bukan makhluk penting bagi para Dewa, sehingga membantu manusia tidak menjadi perhatian para Dewa. Mereka memiliki kehidupan sosial sendiri dalam masyarakat Dewa.

Oleh karena itu, manusia perlu membujuk perhatian para dewa melalui berbagai cara, seperti:

  • Ritual persembahan (makanan, hewan kurban, atau harta benda).
  • Pembangunan kuil megah sebagai tempat pemujaan.
  • Pengorbanan besar-besaran (bahkan terkadang pengorbanan manusia) untuk menunjukkan keseriusan permohonan.

Dengan kondisi tersebut, politeisme dapat disederhanakan sebagai upaya manusia membujuk para Dewa untuk membantu kepentingan manusia.

Sumbangan Politeisme

Selain berguna untuk dimintai secara langsung untuk membantu manusia menghadapi masalahnya, para Dewa secara tak langsung memberikan sumbangan besar bagi peradaban manusia. Sumbangan itu antara lain:

  • Pembentukan identitas sosial & budaya
    Kisah kehidupan para Dewa menjadi rujukan moral, hukum dan identitas bersama. Berbagai macam ritual dan festival keagamaan untuk menghormati Dewa memperkuat ikatan sosial masyarakat.
  • Kemajuan sains & teknologi
    Pembangunan kuil dan monumen megah untuk para Dewa memicu perkembangan arsitektur, seni bangunan, seni ukiran, lukisan, musik dan sastra.
    Untuk menebak kehendak Dewa, para Imam mengembangkan kemampuan membaca posisi bintang yang nantinya menjadi cikal bakal ilmu astronomi.
    Masyarakat yang meminta penyembuhan saat sakit ke kuil, memicu para Imam mempelajari teknik pengobatan yang nantinya berkembang menjadi ilmu kedokteran.
  • Pengembangan ekonomi & perdagangan
    Ritual persembahan di Kuil mendorong perkembangan gudang-gudang penyimpanan yang nantinya berkembang sebagai pusat distribusi dan pertukaran komoditi yang vital bagi ekonomi dan perdagangan.
  • Legitimasi penguasa
    Para Raja biasanya mengaku sebagai wakil Dewa atau bisa berhubungan dengan Dewa. Kedudukan ini membuat rakyat patuh dan bisa dikendalikan oleh penguasa.
Kompleks makam para raja Mesir. Kepercayaan tentang kehidupan setelah mati mendorong para raja untuk menyiapkan bangunan megah dan bekal bagi kehidupan mereka kelak setelah mati.

Problem Politeisme

Apakah politeisme bertahan? pada kenyataannya tidak.

Kepercayaan politeisme hampir ditinggalkan di semua wilayah dunia.

Kenapa? ada problemnya yang akan saya sampaikan dalam tulisan berikutnya.


Seri Tulisan: Evolusi Agama
Evolusi Agama: Politeisme Timur Tengah
Evolusi Agama: Monoteisme, Penyederhanaan Agama
Evolusi Agama: Yahudi, Yang Ikut Monoteis
Evolusi Agama: Kristen, Revolusi Para Mesiah
Evolusi Agama: Islam, Persaingan Nabi Arab

Bacaan: