Di wilayah Kanaan, kelahiran monoteisme dapat dilacak dari perjalanan hidup Ibrahim yang mendapat kedudukan tinggi di dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam.

Yang Bergumul Dengan El

Ibrahim lahir dan dibesarkan di kota Ur (kota Sumeria di Mesopotamia) dan bermigrasi ke Kanaan (wilayah Israel/Palestina sekarang). Dia lahir dalam tradisi politeisme Sumeria/Babilonia yang menyembah Dewa Marduk, Ishtar, Shamash, Enlil dan beragam dewa lainnya.

Setibanya di wilayah Kanaan, dia memilih El, Dewa tertinggi di Kanaan sebagai sembahannya. Namun, ia tidak sepenuhnya menolak dewa-dewa lain—suatu praktik yang dikenal sebagai Henotisme (menyembah satu dewa utama tanpa menyangkal keberadaan dewa lain).

Penyembahan El oleh Ibrahim diikuti oleh keturunannya. Dalam Perjanjian lama, dikisahkan Yakub, cucu Ibrahim bertemu dengan El, namun karena ketidaktahuannya ia melawan dan bergulat melawan El sebelum menyadarinya.

Dari peristiwa ini Yakub kemudian diberi nama Israel, yang artinya “Ia yang bergumul dengan El”, Israel ini kemudian dijadikan juga sebagai nama suku keturunan Ibrahim.

Dewa-dewa Kanaan, Ibrahim memilih El sebagai sesembahannya

Dibebaskan Dari Perbudakan oleh Yahweh

Ibrahim dan keturunannya yang dikenal sebagai bangsa Israel atau Yahudi, pada suatu saat bermigrasi ke Mesir dan berkembang menjadi suku yang besar, namun karena perubahan politik. Keturunan Ibrahim ini dijadikan budak oleh orang Mesir.

Perbudakan di Mesir ini merupakan masa-masa kesedihan dan ketakberdayaan bagi bangsa Yahudi.

Di saat tak berdaya tersebut, tampil Musa yang mendapat bantuan dari Yahweh, salah satu Dewa Perang Kanaan, memperjuangkan pembebasan bangsa Yahudi.

Dengan bantuan berbagai keajaiban dari Yahweh, akhirnya Musa berhasil memimpin orang Yahudi keluar dari Mesir dan kembali ke Kanaan sebagai orang merdeka.

Di Kanaan, orang Yahudi berkembang menjadi bangsa besar penguasa Kanaan.

Seiring waktu Yahweh dan El (sesembahan Ibrahim, leluhur mereka) mulai dianggap sebagai sosok yang satu, walaupun nama Yahweh yang kemudian dipakai sebagai nama Dewa bangsa Yahudi.

Era kejayaan bangsa Yahudi dicapai saat diperintah oleh Raja Salomo / Sulaiman. Saat itu bangsa Yahudi dikenal sebagai kerajaan yang makmur dalam pemerintahan yang adil.

Gambar Yahweh pada sebuah koin drachma (seperempat shekel) dari provinsi Persia Yehud

Hampir Punah Oleh Babilonia

Bencana datang ketika Nebukadnezar II, Raja Babilonia menaklukkan Yahudi dalam serangan pada tahun 597 dan 586 SM.

Dalam penaklukan tersebut, semua rakyat Yahudi dibawa ke Babilonia sebagai budak. Tanpa keajaiban, nasib Yahudi sebagai bangsa terancam punah dan dilupakan.

Diselamatkan Persia

Bangsa Yahudi selamat dari kepunahan ketika Persia menaklukkan Babilonia.

Cyrus The Great pada tahun 539 SM mengijinkan bangsa Yahudi kembali pulang ke Kanaan dan membangun kembali kerajaan Yahudi.

Dari Henotisme ke Monoteisme

Pengaruh kebaikan bangsa Persia yang menganut Monoteisme Zoroaster meninggalkan pengaruh bagi corak keagamaan bangsa Yahudi.

Jika mereka awalnya menganut Henotisme, yang masih menerima keberadaan Dewa-dewa lain walaupun tidak menyembahnya, setelah pembebasan oleh Cyrus, Nabi Yesaya membawa Yahudi menganut monoteisme murni yang mengakui hanya ada satu Dewa yaitu Yahweh saja, tidak ada dewa-dewa lainnya.

Selain corak monoteisme, Zoroaster meninggalkan pengaruhnya dalam agama Yahudi. Konsep Setan, Malaikat dan Paradize merupakan beberapa dogma Zoroaster yang diadopsi agama Yahudi.

Dari Kanaan ke Seluruh Dunia?

Dengan diadopsinya konsep Monoteisme oleh agama Yahudi di wilayah Kanaan, adakah adopsi Monoteisme dalam agama lainnya? saya akan sampaikan di tulisan berikutnya.


Seri Tulisan: Evolusi Agama
Evolusi Agama: Politeisme Timur Tengah
Evolusi Agama: Monoteisme, Penyederhanaan Agama
Evolusi Agama: Yahudi, Yang Ikut Monoteis
Evolusi Agama: Kristen, Revolusi Para Mesiah
Evolusi Agama: Islam, Persaingan Nabi Arab

Bacaan: