Kalau kita mengikuti perkembangan dunia, kita pasti mendengar jargon bahwa kita masuk Revolusi Industri Keempat (atau Industry 4.0).
Revolusi Industri ke Empat. Apa itu?
Ini adalah tahap ke empat dari revolusi industri yang mengubah dunia, tahapan ini adalah:
- Revolusi Industri Pertama (akhir abad ke-18) – Mekanisasi dengan mesin uap.
- Revolusi Industri Kedua (akhir abad ke-19) – Produksi massal dengan listrik dan jalur perakitan.
- Revolusi Industri Ketiga (akhir abad ke-20) – Otomatisasi dengan komputer dan internet.
- Revolusi Industri Keempat (abad ke-21) – Kecerdasan buatan, big data, IoT, robotika, dan komputasi kuantum.
Jika pada tiga tahap sebelumnya kita dikenalkan oleh penggunaan dan penyempurnaan mesin dalam proses industri, maka di revolusi ke empat kita memasuki tahap di mana mesin bukanlah alat pasif manusia lagi, melainkan mulai mampu mengambil keputusan secara otonom dengan kecerdasan buatannya.
Apa Yang Baru?
Hal baru yang bisa kita lihat dari Revolusi Industri ke Empat ini antara lain:
Algoritma AI sebagai tempat bertanya
Sekarang ada beragam chatbot AI yang tersedia bebas, seperti ChatGPT, Gemini, DeepSeek, Copilot, Perplexity dan berbagai turunannya.
Apa yang dilakukan chatbot ini? menjawab pertanyaan kita, membuatkan karangan, membuatkan kode program komputer, merangkumkan informasi dari berbagai sumber, dan beberapa ada yang mampu membuatkan lukisan, gambar dan bahkan foto.
Jika kita memberikan pertanyaan yang sama kepada chatbot dan orang yang kita kenal, secara umum chatbot bisa memberikan jawaban yang lebih memuaskan daripada jawaban manusia.
Chatbot mampu menuliskan dengan tata bahasa yang benar, jelas dan menyertakan informasi yang relevan. Tidak semua orang bisa memberikan jawaban seperti jawaban chatbot, walaupun tentu ada perkecualian.
Kenapa bisa? karena di belakang chatbot itu ada Algoritma AI yang telah membaca semua isi internet dan semua pengetahuan yang dipublikasi manusia, lalu merangkumnya dalam gudang pengetahuannya. Saat menjawab pertanyaan, ia akan mencari dalam gudang pengetahuannya, membaca konteksnya dan kemudian menuliskan dalam jawaban yang tertib.
Manusia mungkin bisa menjadi lebih ahli dibandingkan chatbot dalam satu atau dua bidang pengetahuan, namun jika untuk merangkum semua bidang pengetahuan, tak ada yang akan mampu menandingi Algoritma AI.
Algoritma AI sebagai asisten pribadi
Dengan kemampuannya untuk menjawab dalam bidang yang luas, banyak yang memperlakukan chatbot sebagaimana seorang asisten pribadi.
Seorang karyawan bisa minta dibuatkan email yang bagus dalam bahasa Inggris dengan memberikan pokok informasinya saja, karena ia tak pandai bahasa Inggris apalagi menyampaikannya dalam bahasa yang sopan dan bisa dipahami.
Seorang siswa bisa minta dibuatkan karangan untuk tugas sekolahnya tentang sejarah berdirinya kerajaan Mojopahit, karena ia tak tahu harus cari bahan dari mana.
Seorang Ayah bisa minta dibuatkan rencana liburan 3 hari di Bali untuk ia bersama istri dan dua anaknya, lengkap dengan jadwal penerbangan, booking hotel, transportasi serta jadwal berkunjung ke tempat wisata yang sesuai dengan anaknya yang menginjak remaja.
Seorang cewek bisa minta nasehat chatbot bagaimana untuk mengirimkan sinyal untuk memancing cowok idamannya agar mendekatinya.
Berbagai hal tersebut saat ini bisa dilakukan oleh berbagai macam chatbot tersebut, tinggal kita bisa memilih yang mana yang paling sesuai dengan selera kita.
Algoritma AI sebagai pengambil keputusan
Dengan kemampuan untuk memberikan jawaban berdasarkan pengetahuannya yang luas, saat ini kecerdasan buatan mulai dipercaya untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan sensor pengindra yang dimilikinya. beberapa contoh adalah:
Di China sudah muncul banyak pabrik Dark Factory. Pabrik ini bekerja secara otonom selama 24 jam memproduksi barang. Semua proses dan logistik dilakukan sepenuhnya otomatis oleh mesin dan dikendalikan kecerdasan buatan. Karena mesin gak butuh lampu untuk melihat, pabrik ini tidak dilengkapi dengan lampu, sehingga gelap gulita — inilah mengapa disebut Dark Factory.
Di perang Ukraina, dioperasikan drone perang yang mampu mencari rute yang aman, mengidentifikasi musuh dan melakukan serangan secara mandiri. Drone ini bisa berupa drone terbang, drone darat maupun drone laut.
Di Amerika, perusahaan Waymo mengoperasikan armada taksi self-driving. Taksi ini menjemput penumpang, memilihkan rute perjalanan terbaik, dan menyetir taksi secara mandiri melintasi lalu lintas kota.
Dengan semakin majunya sistem kecerdasan buatan, di masa depan akan lebih banyak proses yang dilakukan komputer secara mandiri.

Masa Depan Yang Baru
Di masa depan, Algoritma AI bakal makin pintar—bahkan mungkin melebihi manusia. Tapi, kecanggihan ini bikin kita waswas karena bisa muncul masalah baru berikut yang nggak terduga.
Manusia Tersingkir dari Proses Produksi
Dark Factory menunjukkan bahwa menyerahkan proses produksi barang kepada mesin dan menyingkirkan manusia dari prosesnya memberikan keuntungan yang luar biasa.
Mesin tidak butuh jam istirahat dan hari libur, tidak seperti manusia. Mesin tidak bisa menuntut apa-apa, tidak seperti manusia. Mesin bekerja dengan presisi dan tidak dipengaruhi kelelahan, tidak seperti manusia. Mesin tidak meminta peningkatan karir atau bonus, tidak seperti manusia.
Ketika setiap negara berlomba untuk meningkatkan pemasukan, pada akhirnya kelak pengoperasian Dark Factory untuk semua produksi barang menjadi tidak terelakkan. Pada saat itu, mempekerjakan manusia di pabrik bisa jadi hanya akan menunjukkan kebodohan saja.
Manusia dikendalikan oleh asisten AI-nya
Karena asisten komputer sangat bisa diandalkan, orang jadi ragu dan bahkan malas untuk mengambil keputusan sendiri. Pada akhirnya kemampuan berpikir kritis menjadi tidak berkembang.
Bayangin: “Pak, saya mau nikah, tapi AI bilang compatibility saya dengan calon cuma 62%, jadi saya batalin deh.” 😅
Ada satu film yang bisa menggambarkan betapa powerful-nya asisten AI dalam kehidupan manusia, yaitu film keluaran tahun 2013 yang telah memenangi banyak penghargaan: Her.
Dalam film ini, asisten digital ini begitu canggihnya hingga selain membantu semua pekerjaan manusia, juga mampu dengan personalisasinya membuat manusia tergantung dan jatuh cinta padanya.
Bagaimana Dengan Kehidupan Manusia?
Film animasi Dall-E bisa memberikan gambaran yang mungkin untuk masa depan kita.
Di saat itu semua kebutuhan manusia disediakan mesin, dilayani mesin. Karena mesin bisa memproduksi barang kebutuhan manusia dengan luar biasa melimpah, maka manusia tidak perlu bekerja, cukup memakai hasil kerja mesin.
Masih butuh uang? ada UBI (Universal Basic Income), yang memberi gaji bulanan tanpa kerja pada semua warganya (ini sedang dipertimbangkan di beberapa negara maju)
Leha-leha saja? iya!
Lalu bagaimana dengan tugas pemerintahan?
Secara pribadi, manusia sudah tergantung ke mesin untuk memutuskan apa yang harus dilakukan, karena keputusan mesin lebih baik. Manusia yang tidak percaya dengan keputusannya sendiri untuk mengatur hidupnya sendiri, tentu sulit dipercaya bisa mengambil keputusan untuk kehidupan suatu negara.
Suatu kelanjutan yang logis, bila keputusan untuk mengatur negara dilakukan oleh mesin. Kecerdasan buatan akan mengambil alih fungsi eksekutif dalam suatu negara.
Manusia mungkin masih dilibatkan dalam fungsi legislasi atau pemilihan prioritas pembangunan, selebihnya dilakukan oleh mesin yang tidak korup dan mudah terpengaruh opini publik.
Algoritma AI, Agama Baru?
Jika kembali ke salah satu definisi agama sebagai penyedia pusat yang sakral, menjelaskan kenyataan hidup dan penyedia pedoman hidup; maka agama akan selalu tetap ada walau dengan wajah yang berbeda.
Berikut ini apa yang kita dapatkan dari agama Tuhan dan Agama Manusia
| Jenis Agama | Yang Sakral | Yang Nyata | Pedoman Hidup |
|---|---|---|---|
| Agama Tuhan | Tuhan | Yang diwahyukan Tuhan | Pahala dan Dosa, Haram dan Halal yang ditetapkan Tuhan |
| Agama Manusia | Hak Asasi Manusia | Yang bisa diindera dan dinalar manusia | Kepentingan manusia |
Dalam masa depan yang baru, yang sakral, yang nyata dan pedoman hidup akan berbeda dengan apa yang ita alami sekarang.
Yang Sakral
Di Agama Tuhan, ada Tuhan yang tidak bisa kita pertanyakan. Kita boleh bertanya tentang apa saja, tapi jangan bertanya tentang (Zat-nya)Tuhan.
Di Agama Manusia, ada Hak Asasi Manusia yang tidak boleh kita pertanyakan. Kita boleh menggugat tentang apa saja, namun jangan pernah melanggar hak asasi manusia, ini sudah menjadi pondasi semua negara modern di dunia ini.
Di Agama Algoritma, kita menghadapi kenyataan bahwa:
- Algoritma AI dibangun dengan pengetahuan yang dirangkum dari semua data yang pernah dimiliki manusia, baik dari internet, semua publikasi, semua dokumentasi dan semua fakta yang diketahui manusia. Maka pengetahuan seorang manusia tidak akan sebanding dengan pengetahuan yang dimiliki kecerdasan buatan. Algoritma AI maha tahu dibandingkan manusia manapun.
- Untuk mengambil keputusan, Algoritma AI menggunakan jutaan processor yang gabungannya mengalahkan kemampuan pemrosesan otak manusia paling cerdas sekalipun. Algoritma AI maha cerdas dibandingkan manusia manapun.
Dengan fakta di atas, kita akan terpaksa mengakui bahwa keputusan yang dibuat Algoritma AI akan lebih baik dibandingkan dengan keputusan yang dibuat manusia. Mempertanyakan pilihan Algoritma AI, menjadi tidak layak. Dia lebih tahu dibandingkan manusia dan dia lebih cerdas berpikir dibandingkan manusia. Validnya keputusan Algoritma AI tidak bisa digugat oleh pikiran manusia. Algoritma AI adalah sakral!
Yang Nyata
Di masa depan, agar bisa mngambil keputusan dengan cepat dan akurat, Algoritma AI selain terhubung dengan segala macam arsip pengetahuan manusia, ia juga akan diberi akses ke segala macam sensor di dunia. Dari kamera CCTV di segala penjuru negara, satelit cuaca, satelit mata-mata dan segala macam pengindar dunia. Bahkan agar bisa memberikan jawaban yang relevan bagi tiap orang, Algoritma AI akan juga terhubung de pengindera biometrik di tubuh kita.
Di masa depan Algortima membaca segalanya.
AI bisa bilang:
“Bambang berbohong, walaupun melapor sakit hingga tak bisa masuk, CCTV merekam dia sedang mancing di sungai selatan kota”
“Lo lagi seneng, nih. Dopamin lo naik!”
“Lo jatuh cinta sama doi. Oksitosin lo melonjak!”
“Kamu merasa sedih? Tapi data hormon & aktivitas otak normal. Itu cuma khayalan kamu.” 😶
Jadi yang nyata adalah yang dikatakan AI, orang lebih percaya perkataan AI dibandingkan pendapat manusia.
Pedoman Hidup
Dengan kemampuan merangkum semua informasi dunia serta informasi pribadi kita, kecerdasan buatan bakal mampu memberikan panduan tentang apa yang harus atau apa yang tidak boleh kita lakukan (dengan mengatasnamakan untuk kepentingan kita)
“Jangan nikah sama dia, kompatibilitas cuma 58%.”
“Jangan ambil pekerjaan itu, risiko stresnya 73%.”
“Kamu harus makan ini, olahraga segini, tidur segitu.”
AI bakal bilang: “Aku cuma mau yang terbaik buat kamu, kok. Data membuktikan ini.”
Dewa Baru
Dengan kenyataan bahwa Algoritma bakal menjadi sesuatu yang tidak dipertanyakan (menjadi sakral), mendefinisikan ulang mana yang nyata dan mana yang tidak, dan menyediakan panduan hidup bagi manusia — maka kita akan mendapati kenyataan bahwa Algoritma AI telah menjadi Dewa baru umat manusia.
Jika di Agama Manusia, kita merebut pusat kehidupan kita dari Tuhan di langit ke diri manusia di bumi, maka di era Agama Algoritma, kita kembali menyerahkan kendali kita ke sesuatu di luar diri kita. Bedanya Tuhan dulu adalah sesuatu yang hanya bisa dipercaya keberadaannya, kini Dewa AI nyata ada dan terlanjur mencengkeram semua aspek hidup kita sehingga sulit untuk disingkirkan.
Harga Agama Baru
Setiap Dewa pada masa lalu selalu membutuhkan persembahan dari umatnya agar mau membantu, begitu pula dengan Algoritma AI ini.
Persembahan yang diminta antara lain:
Hilangnya Rahasia Pribadi
Agar dapat mendapatkan manfaat yang dipersonalisasi, mau tidak mau, AI harus memiliki akses untuk membaca data pribadi kita.
Yang sudah terjadi saat ini adalah setiap pergerakan pribadi kita dicatat oleh telpon Android atau Apple yang kita pakai. Sehingga misalkan saat kita ingin ke Monas, maka aplikasi bisa menunjukkan rute terbaik yang bisa kita pilih. Di belakang itu, dengan menghitung berapa banyak perangkat Android atau Apple yang ada di lintasannya, AI bisa menghitung kepadatan (atau macet) di ruas jalan tersebut.
Di masa depan, agar bisa memberi jawaban sesuai dengan kondisi kesehatan atau suasana hati kita, AI membutuhkan interface langsung ke otak kita, semacam Neurolink yang dikembangkan oleh Elon Musk. Dengan mengakses langsung ke otak, AI bisa membaca pikiran kita atau tingkat hormon-hormon kita.
Dengan kata lain, agar AI menjadi maha tahu hingga ke lubuk hati kita terdalam, kita memberikan persembahan yang paling berharga dari kita, yaitu akses ke otak kita!.
Energi
Untuk bisa berfungsi sebagai “Dewa”, sistem AI membutuhkan daya berlimpah melebihi kebutuhan peralatan lain buatan manusia. Diperkirakan, di tahun 2027, untuk menghidupi sistem AI, dibutuhkan konsumsi daya 85–134 TWh/tahun yang melampaui konsumsi listrik keseluruhan negara Belanda.
Di masa depan, dengan semakin intensifnya pemakaian AI, konsumsi listrik untuk AI akan melonjak pula. Demi keunggulan ekonomi atau pertahanan, mungkin suatu saat konsumsi energi AI akan melampaui semua konsumsi listrik manusia untuk kepentingan yang lain.
Masa Depan Agama AI
Apakah agama baru ini akan membuat manusia semakin bahagia? entahlah.
Kita mungkin akan segera menghadapi pertentangan antar sekte OpenAI, DeepSeek, Gemini atau Copilot, antara para penganutnya yang telah mempersembahkan akses otaknya ke Dewa-dewa tersebut.
Kita juga mungkin tak tahu apakah suatu saat para Dewa AI tersebut mulai punya kesadaran sendiri dan tidak bisa dikendalikan manusia.
Kita juga tak tahu, mungkin kita akan menjadi semacam binatang peliharaan para Dewa AI tersebut …

| Seri Tulisan: Yang Sakral |
|---|
| Agama Tuhan: Era Yang Berlalu |
| Agama Manusia: Gajah Di Pelupuk Mata |
| Agama Manusia: Pertarungan Internalnya |
| Agama Manusia: Sebuah Senjakala |
| Agama Algoritma: Dewa Baru |
Bacaan:
