Salah satu ritual wajib dalam ibadah Haji adalah lempar jumroh.
Secara harfiah adalah melempari tiang batu dengan batu kerikil.
Secara simbolis adalah melempar setan agar setan menjauh, agar kita tak terbujuk oleh setan.
Sebenarnya bujukan setan mana yang akan kita tolak?
Kalau kita merujuk pada kisah Ibrahim, lempar jumroh menirukan Ibrahim melempar setan saat membujuk Ibrahim untuk mengurungkan niatnya untuk menyembelih anaknya.
Kira-kira begini:
“Sampean kok gak rasional, mimpi itu kembang tidur, gak usah dianggap serius. Apalagi mimpi menyembelih anak sendiri. Kalau lalu sampean anggap itu sebagai perintah, ya goblok.”
“Anakmu itu masa depannya masih panjang. Kelak mungkin dia akan bertemu dengan gadis yang menarik hatinya, jatuh cinta, menikah, membesarkan anak dan berbahagia menjalani hidupnya. Kalau kau menyembelihnya, maka kau rebut semua kebahagiaan menjalani hidupnya. Kau jahat terhadap anakmu, anak yang katamu kau cintai.”
“Orang tua macam apa yang setega itu pada anaknya?”
Setan saat itu tidak sedang mengajak Ibrahim berbuat jahat.
Setan sedang mengingatkan bahwa kewajiban orang tua adalah melindungi anaknya, bukan membunuhnya, ia sedang mencegah pembunuhan manusia yang tidak bersalah, ia sedang mengajak menggunakan nuraninya, ia sedang mengajak menggunakan nalarnya.
Karena tanpa melaksanakan kewajiban orang tua, tanpa menggunakan alasan yang benar untuk bertindak, tanpa menghiraukan nurani dan tanpa menggunakan nalar; apa artinya hidup manusia.
Ibrahim marah, Ibrahim menimpuk setan dengan batu. Ibrahim menolak bernalar, bernurani, menolak alasan yang benar, menolak kewajiban seorang ayah.
Dan Allah senang dengan sikap Ibrahim.
Dijadikannya Ibrahim sosok tauladan, dibuatkan hari raya untuknya, disuruhlah manusia meniru Ibrahim — melempari setan, melempari kewarasan, sambil memuja-muji tuhan.

