Mendengar nama Israel disebut, banyak orang Islam langsung mengasosiasikan sebagai sumber masalah di Timur Tengah, sebagai bangsa penindas rakyat Palestina.
Sebelum sampai kepada kesimpulan tersebut, mari kita membicarakan sejarah Israel sebagai bangsa yang mempunyai akar lebih dari 4000 tahun dan masih bertahan hingga saat ini.
Negara Yang Dijanjikan Tuhan
Menurut tradisi Yahudi yang tertulis di Perjanjian Lama, Abraham, seorang imigran dari Babilonia yang tiba di wilayah ini pada sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, mendapat janji dari Tuhan El, bahwa Dia dan keturunannya, yaitu Ishak dan Yakub (Israel) akan dijadikan penguasa tanah ini.
Israel sebagai negara, baru terbentuk setelah Daud mendirikan Kerajaan Israel. Kerajaan ini mencapai era keemasannya di bawah pimpinan Raja Sulaiman putra Daud.

Namun kejayaan Israel tidak bertahan lama. Setelah kematian Sulaiman, Israel terbagi dua: Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan. Kedua negara ini mengalami kemunduran.
Yang Kenyang Dijajah
Setelah tidak lagi menjadi negara kuat, Israel bergiliran dijajah oleh berbagai tetangganya yang kuat seperti Babilonia, Asyiria, dan Romawi.

Pada abad ke 7, ketika kekuatan Islam muncul dari Arab, Israel kembali beralih penguasanya.
Umar bin Khattab menaklukkan penguasa Israel yaitu Romawi, dan menjadikan Israel (Yerusalem dan sekitarnya) sebagai jajahan kekuasaan Islam.
Sebagian Muslim menganggapnya bukan sebagai penjajahan, namun sebagai pembebasan dari penjajahan Romawi.
Namun faktanya kekuasaan tidak diserahkan kepada penduduk Yahudi setempat, melainkan hanya berganti dari penguasa Romawi kepada penguasa Muslim.
Ini seperti saat Jepang mengusir Belanda dari Indonesia, mereka mengatakan bahwa mereka “Saudara Tua” yang membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Namun faktanya kekuasaan tidak diserahkan kepada penduduk Indonesia, melainkan hanya berganti dari Belanda ke Jepang. Bagi bangsa Indonesia, Jepang adalah bangsa penjajah, bukan pembebas.
Sampai era modern, Israel tidak pernah menjadi negara merdeka. Penjajahnya berganti-ganti. Dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Pasukan Salib dan akhirnya Kekaisaran Ottoman (Khilafah Utsmaniyah).
Perang Dunia I, Awal Era Baru
Perubahan terjadi saat Ottoman mengalami kekalahan di Perang Dunia I.
Ottoman kehilangan wilayah jajahannya di Afrika Utara, Arab, dan Timur Tengah.
Beberapa wilayah bekas Ottoman memproklamasikan diri sebagai negara merdeka.
Sisanya masih dalam penguasaan Negara pemenang perang, yaitu Inggris dan Perancis.


Wilayah Kekaisaran Ottoman (Khilafah Utsmaniyah). Sebelum PD I meliputi wilayah Afrika Utara, Arabia dan Anatolia, Setelah PD I tinggal wilayah kecil yang menjadi negara Turki sekarang.
Yerusalem dan wilayah sekelilingnya disebut Palestine Mandate, yang merupakan bagian dari British Mandate (penguasaan Inggris).
Yahudi, Identitas Yang Bertahan Dalam Penjajahan
Dari semua wilayah bekas Kekaisaran Ottoman, bangsa Yahudi menduduki posisi yang unik.
Setelah penguasaan kekuasaan Islam selama lebih dari seribu tahun, wilayah-wilayah Afrika Utara, Persia, dan Timur Tengah kehilangan identitas budaya asli mereka.
Budaya Mesir sudah tidak dikenal lagi di Mesir, mereka berbicara dan berbusana ala orang Arab.
Budaya Carthage sudah tidak dikenal di Tunisia, mereka berbicara dan berbusana ala orang Arab.
Budaya Assyria atau Byzantium tidak lagi dikenal di Suriah, mereka berbicara dan berbusana ala orang Arab.
Budaya Phoenicia sudah tidak dikenal di Lebanon, mereka berbicara dan berbusana ala orang Arab.
Budaya Persia tinggal bahasanya saja di Iran dan Iraq, mereka berbusana ala orang Arab.
Hanya orang Yahudi saja yang masih mempertahankan budaya Yahudi.
Hadiah Kemerdekaan dan Konflik Baru
Inggris dan Prancis sebagai penguasa bekas wilayah-wilayah Ottoman, tidak bermaksud untuk menguasai wilayah ini selamanya. Mereka secara bertahap memberikan kemerdekaan kepada wilayah-wilayah tersebut.
Maka di wilayah bekas kekuasaan Ottoman tersebut muncul negara-negara baru yang diberi kemerdekaan. Negara-negara itu antara lain Suriah, Lebanon, Yordania, Tunisia, Maroko, Mesir dan Israel.
Dari semua negara baru yang muncul, Israel memiliki posisi yang unik. Berbeda dengan Suriah, Lebanon, Yordania, Tunisia, Maroko, dan Mesir yang budaya rakyatnya terasimilasi oleh budaya Arab, maka di wilayah Mandat Palestina ada rakyat yang masih mempertahankan agama dan budaya Yahudi mereka.
Untuk itu PBB membagi kekuasaan di wilayah mandat Palestina menjadi dua, 45% untuk penguasa Arab dalam negara Palestina dan 55% untuk penguasa Yahudi dalam negara Israel.
Akan tetapi, pemberian sebagian wilayah untuk bangsa Yahudi ditentang oleh penguasa yang mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Arab.

Bagi penguasa Arab, wilayah Israel sudah 1200 tahun dikuasai oleh bangsa Arab, maka sudah selayaknya negara Israel sepenuhnya dikuasai Arab sebagaimana sebelumnya.
Bagaimana nasib bangsa Yahudi? Penguasa Arab tidak mau tahu. Mungkin bangsa Yahudi dibiarkan seperti sebelumnya, menjadi bangsa jajahan yang tidak berkuasa di tanah mereka sendiri, atau dibiarkan terserak sebagai diaspora di negara-negara lainnya.
Bagi mereka, bangsa Arab berhak merdeka, sedangkan bangsa Yahudi tidak berhak merdeka.
Perang Penghapusan Negara Yahudi
Ketika Israel memproklamasikan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948, koalisi Arab yang terdiri dari: Mesir, Yordania, Suriah, Irak, Lebanon, dan pasukan sukarelawan Arab melancarkan perang untuk membubarkan negara Yahudi Israel.
Perang ini adalah perang antara hidup dan mati untuk Israel. Jika mereka kalah, mereka akan kehilangan negaranya dan akan kembali menjadi bangsa jajahan orang Arab.
Hasil perang ini diluar dugaan. Walaupun dikeroyok oleh banyak negara, Israel mampu bertahan dan memukul mundur pasukan gabungan Arab.
Jika wilayah Israel saat kemerdekaannya adalah 55% dari wilayah Mandat Palestina, maka setelah memukul pasukan gabungan Arab, wilayahnya bertambah menjadi 78% dari wilayah Mandat Palestina.
Setelah perang pertama Arab-Israel ini, bangsa Arab tidak mengurungkan usahanya untuk membubarkan negara Israel.
Ada dua kali lagi Koalisi Arab melancarkan serangan ke Israel yaitu Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973.
Kedua perang tersebut kembali dimenangkan Israel, dan Israel mendapatkan tambahan wilayah baru akibat perang tersebut.


Peta serangan Koalisi Arab ke Israel setelah Proklamasi Kemerdekaan Israel, dan Peta wilayah Israel saat ini
Setelah kekalahan berulang koalisi Arab menghadapi Israel, saat ini tetangga-tetangga Arab bersikap pragmatis menghadapi negara Israel.
Mereka tidak lagi menjadikan penghancuran Israel menjadi agenda negara mereka. Beberapa bahkan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan mulai bekerja sama dengan negara Yahudi tersebut.
Perang Lanjutan Dari Tetangga Jauh
Satu-satunya negara yang menjadikan penghapusan Israel sebagai agenda mereka justru Iran, negara Islam tetangga jauh Israel.
Karena tidak berbatasan langsung dengan Israel, Iran hanya bisa menggerakkan proxy mereka yaitu milisi Hamas di Palestina dan milisi Hezbollah di Lebanon untuk berulang kali menyerang Israel.
Di tahun 2024, Hamas menyerbu sebuah konser musik di Yerusalem. Membunuh 1200 penonton konser, dan menculik 200 orang warga sipil.
Serangan ini memicu pembalasan besar Israel. Markas Hamas di Gaza digempur habis-habisan, seluruh pimpinan Hamas dibunuh. Gempuran ini juga dilanjutkan ke markas Hezbollah di Lebanon.
Setelah Hamas dan Hezbollah, di tahun 2025 Israel menyerang Iran dari udara. Pusat-pusat militer Iran dihancurkan, hampir semua pucuk tertinggi militer Iran dibunuh.
Saat menulis ini, saling kirim serangan rudal masih terjadi antara Israel dan Iran. Entah sampai kapan.


Kehancuran akibat saling serang dengan rudal di Tel Aviv, Israel dan di Teheran, Iran
Kapan Damai di Timur Tengah?
Entahlah. Mungkin setelah orang-orang Arab itu mengakui penggalan indah pembukaan UUD 1945 yang berbunyi:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Orang Arab harus sadar, bahwa Bangsa Yahudi berhak merdeka dan berhak memiliki negara sendiri. Dan menghapuskan niat mereka untuk menjadikan wilayah Israel sebagai jajahan Arab.



